MODAL SOSIAL KUNCI SUKSESNYA PEMBANGUNAN

Sering kita mendengar berbangai isu dalam diskusi-diskusi tema sosial selalu saja persoalan pembangunan diasumsikan kurang optimal padahal pemerintah telah berjuang dengan vis dan misinya walau pemerintahan silih berganti isu tersebut kerab muncul. Situasi tersebut diasumsikan dengan kondisi sepertinya pengangguran terus bertambah; angka kemiskinan tidak turun, tingkat kriminalitas makin bervariasi; banyak investor hengkang ; industri dalam negeri kalah bersaing  dan masalah lainnya. Semuanya cenderung ke arah kurang optimalnya hasil pembangunan itu sendiri.

Dari persepektif wilayah dan jumlah penduduk yang besar tentu posisi Indonesia memiliki masalah yang kompleks jika penanganan masalah pembangunan kurang memperhatikan arah pembangunan itu sendiri,terutama pengabaian atas modal sosial dalam pembangunan nasional. Dasar pembangunan adalah untuk kesejahteraan manusia sesuai semangat konstitusi kita.  Oleh sebab itu subjek dan objek pembangunan sejatinya adalah manusia. Manusia sebagai mahluk sosial sangat memegang peran terpenting. Artinya kelemahan kita sejak dulu adalah  kurang memperhatikan dimensi modal sosial dalam pembangunan.

Modal sosial adalah pemicu berhasilnya pembangunan nasional dan berdampak luas secara komprehensif dengan berbagai persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa Indonesia dalam memperjuangkan berdirinya negara bangsa secara sosiopolitik memiliki konsep modal sosial yangmerupakan warisan nilai para leluhur bangsa diantaranya :

  • nilai moral menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan atau pribadi dalam etos kerja nya;
  • konsep gotong royong dalam menghadapi berbagai kegiatan sosial di masyarakat desa seperti dalam musim panen yang kelihatannya saat ini mulai pudar dengan masuknya teknologi pertanian ;
  • keteguhan memegang nilai senasib sepenanggungan untuk memperjuangan kemerdekaan bangsa meskipun nilai-nilai ini mulai pudar seiring dengan tingginya ego sektoral dalam perspektif politik kebangsaan ;
  • kuatnya tata laku kehidupan bermasyarakat melalui nilai saling menghormati dan menjaga kerukunan sehingga tercipta bangunan harmoni kebangsaan dalam semua dimensi berbangsa, saat ini terkesan tercerai berai karena pengingkaran terhadap nilai kebangsaan dan persatuan bangsa ;
  • nilai keteladanan para pemimpin sehingga masyarakat menghormati para tokoh serta pemuka masyarakat dan (baik itu tokoh adat, agama, suku dan lainnya sebagai opinion leader), nilai ini semakin pudar juga saat langkanya para tokoh yang menjadi teladan dan ini justru diperlihatkan para pemangku kepentingan seperti adanya para narasumber yang menjadi narapidana (inkonsistensi moral) ;
  • modal sosial masyarakat yang mau menghargai lingkungan budayanya seperti menghargai kearifan lokal, sehingga terbangun konsep nilai dalam lingkungan masyarakat untuk menjaga norma dan nilai sosial di masyarakat, namun hal ini semakin pudar dengan adanya ambisi penguasaan lahan yang besar dan menjadikan masyarakat desa sebagai budak dan lingkungan yang rusak akibat pola pembukaan lahan dengan model membakar lahan yang berdampak pada kerusakan lingkungan.

Semua konsep kehidupan berbangsa yang telah dijelaskan di atas adalah modal sosial bangsa Indonesia yang terbangun sebagai ketahanan nasional dalam dimensi IPOLEKSOSBUDHANKAM. Namun dalam implementasi kehidupan berbangsa dan bernegara mengalami degradasi karakter kebangsaan karena tidak dijiwai sebagai konsep sosial dalam pembangunan bangsa.

Hal tersebut dapat kita lihat pada perjalanan pembangunan bangsa sejak kita merdeka. Sebagai contoh konkret bahwa pasca meletusnya peristiwa penghianatan atas konsep idiologi bangsa pasca G 30 S PKI, Indonesia mengalami kemerosotan dalam modal sosial, karena pudarnya modal sosial (senasib dan sepenanggungan) sehingga tujuan sebagai satu bangsa yang beridiologi Pancasila dikianati oleh (tidak percaya dan saling mencurigai) antar anak bangsa sehingga terjadi kekacauan politik saat itu; untuk selanjutnya pasca peristiwa penghianatan idiologi bangsa , kita mencoba bangkit membangun kembali modal sosial pembangunan moral politik bangsa sejak tahun 1967 kita mengenal orde baru sampai turunnya pemimpin orba saat itu, karena pembangunan yang dilaksanakan tanpa memperhatikan modal sosial, semua kebijakan sosial dalam pembangunan terkesan sentralistik dari pusat, dan terkesan tidak demokratis dalam pengambilan kebijakan karena kurang mendengarkan aspirasi masyarakat sehingga banyak dinamika  yang melahirkan “distrust terhadap pemerintahan” dan terjadilah apa yang kita kenal dengan reformasi 1998.

Memasuk era reformasi sampai saat ini setelah hampir 22 tahun reformasi  1998, kita melihat modal sosial berbangsa tidak dirawat sehingga proses kehidupan berbangsa dalam era reformasi terkesan tidak memperhatikan budaya yang bercirikan jatidiri bangsa sebagai konsep sosial, seperti sikap kebebasan yang tidak bertanggungjawab (gambaran anarkisme) ; kurangnya sopan santun dalam bertutur (saling menghujat ) : etika demokrasi liberal ( yang tidak relevan dengan konsep nilai Pancasila seperti adanya Voting dalam pemgambilan keputusan yang kemudian melahirkan adu kekuatan pandangan politik sektoral bukan kepentingan nasional (red:kebersamaan senasib sepenanggungan) sehingga lebih menonjol konsep nilai individualisme dan politik identitas. Inilah dampak ketika reformasi tidak lagi berpijak pada modal sosial yang menjadi jatidiri bangsa Indonesia.

Dari konsepsi pembangunan tersebut, maka kita harus belajar dari berbagai peristiwa yang terjadi dalam proses pembangunan bangsa sejak kita merdeka. Sesuai semangat konstitusi kita bahwa  tujuan pembangunan bangsa adalah untuk manusia bukan semata-mata untuk kemegahan bangsa secara fisik.  Hal ini dipertegas dalam bunyi pembukaan UUD 1945  yang konklusinya tujuan pembangunan itu sejatinya segambar dengan cita-cita berdirinya negara ini yaitu melindungi, memajukan, mencerdaskan, dan ikut dalam pergaulan internasional untuk tertib dunia.

Dalam pembangunan bahwa pelaku dan objeknya tentu manusia, yang secara sosial modalnya adalah: saling percaya (trust) sehingga terbangun integritas, saling membantu yang dicirikan dalam senasib sepenanggungan yang kemudian hasilnya akan membangun partisipasi aktif dalam setiap aktivitas kehidupan sosial dan pembangunan. Pada sisi lain bahwa inti dari konsepsi modal sosial adalah untuk menjaga persatuan Indonesia yang ditunjukkan melalui konsep gotong royong dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan nasional. Semoga.

Bangun Sitohang, Ketua Kajian Nilai Menjadi Orang Indonesia ( KANIMOI / LUTFI )

Pos terkait