Mengenal Lebih Jauh Ak. Twissje Inkiriwang, Ketua DPW Pemuda (Rumpun) Melayu Jawa Barat.

Bandung, suarakita.id (12/07/2022) Ak. Twissje Inkiriwang , wanita keturunan Menado , dilahirkan di Bandung, nenek ada di Bandung, sempat kuliah di Menado. Tujuan pulang ke Bandung alasan mau ketemu nenek, tetapi malah ketemu jodoh di Bandung sehingga kemudian menetap di Bandung sampai dengan saat ini . Background pendidikan sebenarnya agronomi, akan tetapi lingkup aktivitas banyak tidak sejalan dengan latar belakang pendidikan yang ditekuninya.


Cerita kemudian bersedia memegang organisasi Rumpun Melayu di Jawa barat bermula dari penjelasan tentang Melayu. Yang terbayang pertama kali adalah keberadaan suku di wilayah Sumatra ataupun Kalimantan Barat. Bahwa ternyata yang dikenal di dunia justru Rumpun Melayu. Di Amerika ataupun Eropa, orang tidak begitu kenal Indonesia, akan tetapi saat dijawab Melayu, mereka lebih mengerti. Faktanya Melayu bukan hanya di Indonesia, melainkan juga meliputi wilayah Asia Tenggara seperti Philiphina, Thailand, Myanmar, Malaysia, Singapura maupun Brunei Darussalam. Pepatah lama, Tokoh Bugis, Hang Tuah menyatakan “Tak Melayu hilang ditelan bumi”, sebuah semangat persatuan Rumpun Melayu. Keberadaan organisasi Rumpun Melayu di Indonesia justru dimaksudkan turut mempertahankan NKRI, karena jazirah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke tidak terlepas dari keberadaan Rumpun Melayu yang terdiri dari berbagi suku bangsa.


Berangkat dari pemahaman tersebut, tokoh Gender, Ak. Twissje Inkiriwang, seorang ibu yang malang melintang di organisasi dengan segudang pengalaman, meski awalnya sempat ragu, setelah mendengarkan paparan terkait yang dimaksudkan organisasi ini , dengan bismillah, dia terima amanah untuk memegang kepemimpinan Pemuda Melayu di Jawa Barat.
Kepada suaranews.id, dengan tutur kata yang lembut namun jelas tertata rapi sebagai gambaran sosok yang sangat matang dan paham berorganisasi dengan hierarkhi yang jelas, Ak.Twissje Inkiriwang memaparkan bahwa dirinya sejak muda sangat senang berorganisasi.
“Yang namanya berorganisasi, jika sudah mau bergabung saya akan menekuni dengan sungguh-sungguh,”ujarnya. Lanjutnya, Ia belajar banyak dari Pemuda Pancasila (PP), juga dari kegiatan-kegiatan masyarakat lainnya. Tidak ujug-ujug jadi ketua jika tidak dikenalkan, sejak muda suka berorganisasi.

Di kemasyarakatan juga berorganisasi, mulai dari tingkat bawah, kota maupun provinsi, saat mau ditarik ke pusat/ nasional ia menolak karena merasa terlalu jauh, cukup sampai di provinsi dirinya berkiprah. Pernah menjadi ketua RW selama 10 tahun, mempelajari banyak karakter di masyarakat. Aktif di PKK 36 tahun, membantu kesejahteraan keluarga di masyarakat. Banyak kegiatan diikutinya, termasuk kegiatan yang mengikat baik tingkat kota maupun provinsi. Kalau di PP 39 tahun berkiprah, mulai dari Srikandi tingkat PAC, DPC, MPC PP, ia tetap di Srikandi posisinya. Walaupun ada beberapa/2 periode tidak aktif sebagai pengurus, tetapi sebagai anggota tetap, saat itu anak-anaknya masih kecil, meski begitu sebagai anggota tetap hadir dalam kegiatan kegiatan besar.


Dulu lembaga Srikandi ada di DPP, tahun 1983 diajak bergabung di Srikandi PP, juga kegiatan tidak melulu Srikandi. Tahun 2003 dipercaya sebagai Ketua Forum Pos KB di Jawa Barat, saat itu ia mendapat penghargaan Nasional terpilih sebagai teladan, bersamaan dengan diberlakukannya Otonomi Daerah.
Banyak kegiatan yang dilakukannya di masyarakat, baik tingkat kelurahan, kecamatan maupun kota Bandung. Pengalaman semakin mengasah, juga semakin lebih dikenal di tingkat lebih atas lagi. Selain ketua Forum Pos KB Jabar, juga bendahara Koalisi Kependudukan Jawa Barat yang berbicara tentang kependudukan. Kemudian kembali dipercaya menjadi Ketua Srikandi Jawa Barat, saat Srikandi sesuai hasil keputusan Mubes 2014 harus pisah menjadi kelembagaan tersendiri tidak lagi menginduk di MPN PP.
Tahun 2016 menyelenggarakan Muswil 1 Srikandi Jawa Barat terpilih sebagai ketua yang pertama kali, saat itu struktur masih dari pusat sampai tingkat DPC dan kelompok kerja. Sekarang sudah 2 kali Munas sehingga sudah banyak perkembangan. “Saat Muswil 2 itu saya tidak maju lagi, duduk manis sebagai pembina. Saat itu sudah membentuk 100 % struktur sampai jajaran terbawah, pengganti saya tinggal melanjutkan,” ujar ibu 2 putra ini.
Saat ini ia diminta membentuk Rumpun Melayu, sebagai Ketua DPW Pemuda Rumpun Melayu di Jawa Barat. Memang secara Nasional belum pernah mengadakan Mubes, karena masih tingkat regional dan baru dikembangkan. Bahwa aturan organisasi mau sah secara nasional jika sudah dibentuk 2/3 wilayah provinsi di Indonesia, baru ijin-ijin diberikan. Jawa Barat pernah diberikan SK, tetapi dikembalikan karena tidak bisa berjalan. “Saat ditawari saya berfikir juga, saat mendalami dan bertanya berbagai pihak, malah didukung untuk menjabat ketua, ia nilai sebagai proses pematangan dan pembelajaran budaya. Awalnya ragu, namun karena pernah menjabat 2 organisasi besar tingkat provinsi Jawa Barat, yang lalu ormas dan bidang kependudukan, meskipun berbeda lingkup garapan, lebih fokus budaya, akhirnya ia sanggupi karena merasa suka tantangan, walaupun ternyata jatuh bangun juga. Dicoba hubungi chanel-chanel, konfirmasi ternyata bisa juga,” ujar Twissje menjelaskan.
Konfirmasi kepengurusan Februari sampai dengan Juli, susunan personil sudah disetujui, tinggal menunggu pelantikan . Ternyata hal teknis tidak semudah membalik telapak tangan, banyak juga prosedur yang mesti dibuat juga. Juga sudah menghubungi berbagai pihak, merencanakan berbagai kegiatan sebagai antisipasi jangan sampai malu jika sudah dilantik dan tidak beraktivitas. Mencoba menjajagi kedepan sebagai kelanjutan setelah pelantikan.
Ia merasa hanyalah ibu rumah tangga dan kondisi sekarang karena covid-19 banyak usaha yang tidak berjalan, namun demikian akan dicoba agar bisa eksis.
Lanjutnya, di Jawa Barat, atau untuk lingkup budaya ia merasa masih buta. Saat mencoba mendekati lingkup itu, malah diajak bergabung pengurus juga disitu. Sebaliknya juga mengajak personil-personil di dinas untuk bergabung untuk pembelajarannya, sekaligus mengambil beberapa even kegiatan budaya apa saja, yang nyambung sebagai rencana kegiatan nantinya, Disbudpar banyak membantunya, mereka punya base data, ternyata banyak sekali di Jawa Barat. Ternyata, kebudayaan bukan hanya masalah tarian, joget, tetapi juga budaya makanan, perilaku, kebersamaannya, juga tata-titi sopan santun yang ada di kebudayaan itu sendiri. Budaya Sunda setelah mengikuti Bengkel Budaya Sunda, selama ini jam sampai angka 12. Untuk budaya Sunda ternyata ada istilah masing-masing. Ada saat matahari terbenam, ada saat ayam berkokok, ada saat matahari terbit. Terasa awam, akan tetapi ini tantangan, akhirnya ya ia coba. Juga menghubungi beberapa tokoh-tokoh budaya di Jabar, tokoh Kesundaan. Berada di Rumpun Melayu tetapi di tanah Sunda, karena itu yang diangkat budaya Sunda. Budaya sunda yang lebih menonjol bukan agama, tetapi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa dinilainya lebih menonjol, jika ada yang menyangkut agama hanya kemudian penyesuaian peradaban. Bukan berarti menolak, melawan atau tidak sepakat tetapi karena berbicara budaya ya tetap harus diikuti.
Kalau bicara kebudayaan akan berakar, ada seninya, tentu berkembang panjang. Beda jika bicara minded 1 faktor saja.
Masyarakat masih awam bicara Pemuda Melayu, akan tetapi secara bertahap sambil belajar memahami makna Rumpun Melayu itu sendiri gambaran semenjak awal benar bahwa kita dari Rumpun Melayu Asia.
“Pasca pelantikan rencananya akan kumpulkan dulu, untuk kemudian beberapa even akan dijalankan sambil konsolidasi. Ini barang baru, jika kemasannya tidak bagus orang tidak akan tertarik, sebaliknya jika kemasan bagus maka orang pasti akan tertarik. Artinya , penting untuk mengemas sebaik mungkin dengan even itu, mengundang kabupaten/kota dengan mengundang budaya masing-masing, mereka membawa seni masing-masing,” paparnya.
Ia melanjutkan, salah satu even yang menarik, parade budaya nasional, nanti akan lebih dekat lagi dengan Disbudpar. “Dari mereka juga kita masukkan di kepengurusan, sehingga kita bisa tahu jadwal mereka. Gerakan harus jalan terus agar masyarakat bisa melihat Pemuda Rumpun Melayu secara positif,”jelasnya.
Terkait isyu gender menurutnya tidak juga dominan, di kepengurusan hanya 9 perempuan. Selain itu ada beberapa dari keluarga besar pembangunan Sumatera Selatan, sebagian mereka juga masuk dalam kepengurusan.

Tanti Novianty (Wakil Sekretaris dan Ketua Panitia Pelantikan)

Salah satu wakil sekretaris, yang juga dipercaya sebagai ketua panitia pelantikan pengurus DPW.
Tanti menjelaskan, awal mula pemahaman, sekilas Rumpun Melayu identik dengan Sumatera, Kalimantan, sementara Jawa Barat identik memiliki suku tersendiri. Akan tetapi setelah mendapat penjelasan dari bu Twissje, memang bangsa Indonesia bagian dari Melayu. Ibaratnya jika indonesia tidak ada, Melayu akan tetap ada, akan tetapi Rumpun Melayu yang ada di Indonesia sepantasnya tetap akan mempertahankan NKRI.
“Melayu memiliki kebangsaan yang kuat, ini yang menjadi daya tarik untuk bergabung. Saat bergabung, diamanahi untuk menjadi ketua panitia pelantikan,” ujar Tanti. Lebih lanjut, awalnya menjadwalkan dengan melihat tanggal 07 bulan 7 cantik, geulis kata orang sunda. Akan tetapi ternyata tidak bisa, kita ingin menghadirkan tokoh-tokoh dari pemerintahan maupun tokoh budaya, komunitas juga. Jawa Barat banyak banget komunitasnya. Organisasi perempuan juga sangat banyak, apalagi ketua Rumpun ini perempuan sepantasnya mengundang mereka juga. “Atas dasar itulah, saya punya komitmen untuk membantu suksesnya acara ini. Selain itu tentu keinginan untuk bisa dihadiri Gubernur, namun karena baru ada musibah dan sekarang sedang menghajikan almarhum Eril putranya, maka agar persiapan lebih matang lagi kedepan maka kita undurkan juga,” jelasnya
Lanjutnya, kita akan menyesuaikan dengan kesiapan Gubernur sebagai pimpinan wilayah. Kita ingin sukses, kita ingin meski baru di Jawa Barat, organisasi ini bisa eksis kedepannya. Kita ingin organisasi ini bisa maju.
Kedepan akan kita lihat DPW Pemuda Melayu Provinsi Jawa Barat, sebagai salah satu representasi Rumpun Melayu akan turut memberikan perhatian lebih kepada budaya di Jawa Barat sebagai bagian dari Rumpun Melayu, termasuk dalam ikhtiar melestarikan dan menularkannya kepada generasi penerus sebagai bentuk perhatian terhadap kualitas SDM yang mengerti sejarah bangsanya. (Ibra /Har)

Pos terkait