Ketua Umum KORPRI, Prof. Zudan Tegaskan Komitmen KORPRI Membangun ASN Berkarakter.

 

HUMAS SETJEN DPKN – Idul Adha mengedukasi umat Islam untuk memiliki kesatupaduan berqurban dengan prinsip kedekatan vertikal kepada Tuhan, sekaligus kedekatan horizontal dengan sesama. Sejalan dengan esensi Idul Adha ini, DP KORPRI Nasional mengajak ASN berquban melalui tema “ASN, Ayo Berqurban” pada Seri Webinar #65 “KORPRI Menyapa ASN”, Selasa (11/6/2024).

Webinar yang diselenggarakan secara virtual ini menghadirkan, Ketua Umum DP KORPRI Nasional, Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh, SH, MH dan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta sekaligus Dewan Pakar KORPRI Nasional, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, sebagai narasumber/penceramah.

Ketum KORPRI melalui keynote speechnya menegaskan bawa KORPRI berkomitmen membangun ASN berkarakter, ASN yang memegang teguh nilai-nilai spiritualitas, religiusitas yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan bekerja ikhlas, rela berkorban sebagaimana nabi Ibrahim dan Ismail.

Pengalaman di lapangan, Prof. Zudan sering mendengar keluhan ASN yang tidak bisa berqurban karena gaji pas-pasan padahal ASN tersebut memakai perhiasan emas atau sepeda motor yang harganya mahal. Zudan menyarankan agar kalung atau motornya dijual kemudian sebagian hasil penjualan dibelikan hewan qurban dan sisanya kembali dibelikan emas dan motor yang mungkin berat dan typenya berkurang, tetapi akan berkah dan insya Allah tahun depan allah anugerahkan harta dan rezeki yang semakin bertambah.

Mengawali ceramahnya, Andregurutta Prof. Nasaruddin Umar menjelaskan perbedaan antara qurban dan korban. Kalau korban adalah bahasa Indonesia berkonotasi negatif, sementara qurban berasal dari bahasa Arab, yang berkonotasi positif, dari akar kata Qaraba, Yaqrabu berarti mendekatkan, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Prof. Nasar memaparkan sejarah qurban, yang sebelum zaman nabi Ibrahim, berasal dari tradisi di Mesir yang mengorbankan manusia. Setiap tahun, dipilih gadis cantik untuk dipersembahkan ke sungai Nil, karena diyakini apabila tidak diqurbankan akan terjadi banjir dan malapetaka. Tradisi mengorbankan manusia berubah menjadi hewan, berawal ketika Nabi Ibrahim bermimpi mendapat perintah dari Allah SWT untuk mengorbankan putranya Ismail, yang kemudian diganti oleh Allah SWT, dengan seekor domba.

Dengan turunnya ajaran qurban, menurut Prof. Nasar, mengutip pendapat sahabatnya Prof. Evan Haddad, bahwa yang paling dulu harus berterima kasih dengan hadirnya Islam ialah perempuan. Seandainya tidak ada Islam, menurut Evan Haddad, perempuan belum dianggap manusia. Karena sebelum Islam datang, perempuan dianggap separuh iblis dan laki-laki separuh tuhan. Islam datang membawa ajaran bahwa laki-laki dan perempuan itu sama, bahkan perempuan itu mulia.

Di penghujung tausiahnya, Andregurutta mengajak ASN untuk berqurban, walau hanya seekor kambing, karena dengan segala kesederhanaan yang ASN miliki, bila dibandingkan dengan orang-orang tua kita sebelumnya yang hidup dengan segala kekurangan dan paceklik masih bisa berqurban, sementara dengan kondisi ASN yang saat ini yang relatif jauh lebih baik, lantas tidak mau berqurban, kebangetan. Jangan sampai Allah SWT mencabut rizki yang kita miliki dan menjadi miskin papa, atau harta yang kita miliki tidak berkah.

Webinar yang selalu ditunggu-tunggu oleh Anggota KORPRI dari seluruh penjuru tanah air ini, dipandu oleh Farina Rahmawati, S.STP, M.E., Duta KORPRI 2023 dari Provinsi Jawa Tengah, diikuti 1.000 partisipan melalui zoom meeting dan sampai berita ini ditulis sudah ditonton lebih dari 10.000 kali melalui kanal Youtube.

Pos terkait